Belitung Island day #1

April 20, 2011 at 8:12 am Tinggalkan komentar

Baru saja berakhir
hujan di sore ini
menyisakan keajaiban
kilauan indahnya pelangi

Tak pernah terlewatkan
dan tetap mengagumiNya
kesempatan seperti ini
tak akan bisa dibeli

Bersamamu kuhabiskan waktu
senang bisa mengenal dirimu
rasanya semua begitu sempurna
sayang untuk mengakhirinya

Pernah denger lagu itu dong?
Yak, OST film Laskar Pelangi yang mengambil setting sebuah pulau penghasil timah di bekas Provinsi Sumatera Selatan yang sekarang bergabung di Provinsi Bangka – Belitung.

Hmm.. Well, Pulau Belitung. Tadinya nggak begitu minat ke Belitung, karena biasanya “bekas” film itu jadi kumuh tempatnya, komersil gitu, dikunjungi, dikotori, dan lupa dirawat. Sampai sesaat sebelum pembagian tiket oleh Bu Grace (Tour Organizer), aku nggak tau ntar mendarat di kota apa, pakai maskapai apa, nama bandaranya apa pula. Namanya juga nggak begitu tertarik, jadi nggak berminat nyaritau juga, dan lagi semua udah diatur Bu Grace, nggak bakal nyasar, nggak meng-arrange sendiri destinasinya. Apa dikata, anak baru nggak bisa banyak cingcong, ngikut ajalah, dan berangkatlah serombongan (ber-14 + Bu Grace) tanggal 4-6 Februari 2011. By the way, Kota tujuan kita adalah Tanjung Pandan.

Jumat (4/2/2011) rombongan berangkat pagi-pagi karena flight jam 09.00 dari Terminal IB Bandara Sekarno-Hatta dengan Sriwijaya Air. Estimasi perjalanan 50 menit. Karena pas Imlek, alhasil banyak ornamen merah-kuning dimana-mana, termasuk yang sipit-sipit juga. Dan hoki Imlek juga nempel di rombongan kita, flight itu juga ngadain undian tiket PP Cengkareng – Tanjung Pandan, dan yg dapet Rama, salah satu anggota rombongan.

Welcome to Belitung Island

Sampai Bandara H.AS. Hanandjoeddin – Tanjung Pandan, agak-agak gimana gitu, bandaranya cukup kecil, dan hectic-nya lebih mirip stasiun kereta api. Cuaca gerimis saat itu, dan kita langsung dijemput 2 minibus yang dipandu Pak Hendro dan Bang Erick dari Belitung Island (tour agent lokal). Cuaca gerimis. Keluar dari lokasi bandara, kita melewati jalanan sepi, lumayan mulus jalanannya, mungkin karena nggak banyak ritasi kendaraan dan penduduknya juga jarang. Di kanan-kiri masih banyak kebon diselingi rumah-rumah yang nggak menggerombol.

Setelah perjalanan sekitar 30 menit, sampailah kita di R.M. Mabay – Tanjung Tinggi – Kab. Belitung Barat, lokasi makan siang & sholat Jumat. RM menghadap ke pantai, dengan makanan ikan semacam ikan kambing-kambing di Babe Lili, cumi goreng tepung, tumis kangkung balacan (terasi khas Melayu), tumis genjer, sayur ikan pake nanas, buahnya nanas & semangka. Tolong diingat, ini buah yang akan ditemui selama tour, meski berbeda rumah makan.

Resto Mabai

Setelah dari Mabai, saatnya perjalanan ke Manggar, padahal katanya hotel tempat menginap deket banget sama Mabai, tapi rombongan mau langsung ke Manggar sebelum ke hotel, biar menghemat waktu. Perjalanan dari Mabai – Manggar sekitar 2 jam (atau lebih, karena berasa jauuuuuuh). Secara geografis, Manggar ada di Kab. Belitung Timur, sementara Tanjung Pandan ada di Kab. Belitung Barat. Meski Belitung cuma satu pulau gitu, tetep aja, jauh.. Secara jarang ada rumah, dan masih hutan-kebon gitu, bahkan beberapa kali lihat monyet & anjing berkeliaran.

Destinasi pertama di Manggar adalah kedai kopi, karena kedai kopi biasanya tutup jam 15.00. Pas kita dateng pas udah mau tutup itu kedai, tapi dibuka lagi, demi kita yang ber-14 + Bu Grace + Pak Hendro + Bang Erick. Kita dateng ke Kedai Kopi Atet. Kondisinya beda jauh sama gambaran kedai kopi di film Laskar Pelangi, yang ini udah versi bagusnya. Konon katanya, kedai kopi itu buka dari jam 04.00 untuk melayani orang-orang yang pergi ke pasar. Harga kopinya relatif murah. Segelas kopi dihargai Rp 3.000,-, sedangkan kopi susu dihargai Rp 6.000,-. Kedai Atet juga menjual bubuk kopi, per 250 gr dijual Rp 25.000,-. Menurut penjelasan Bang Erick, kopi di Manggar itu biji kopi dari Lampung tapi diolah di Manggar. Tapi, orang Lampung-pun bilang kopi Manggar enak, beda sama kopi Lampung. Dasar aneh… “(-_-)

Kopi Manggar

Tujuan selanjutnya adalah Pantai Serdang, dengan perjalanan sekitar 20 menit dari kedai Koh Atet. Pantai serdang sepi sore itu, agak mendung, dan cuma ada pohon-pohon cemara angin, berderet perahu katir (orang Belitung menyebutnya) warna-warni, sekelompok nelayan yang sedang bersiap, beberapa ekor anjing liar, plus segerombol kotoran kerbau. Di Pantai Serdang cuma foto-foto sebentar, pemanasan sebelum tour yang sesungguhnya.

Dua puluh menit selanjutnya rombongan menyusuri jalanan Kec. Manggar dengan tujuan akhir sekolah Laskar Pelangi yang berlokasi diantara danau ex tambang timah. Baru turun dari minibus, rombongan disuguhi atraksi anak-anak yang main salto di kubangan pasir di halaman sekolah. Disana juga sudah ada Ferdi, cast Lintang dalam film Laskar Pelangi. Mau cuma anak desa di Belitung juga Ferdi tetep pemain film, artis dia, jadi berfotolah kita serombongan sama dia. Usut punya usut, ternyata sekolah itu sekolah replika, dimana sekolah aslinya ada di lingkungan sekolah yang masih aktif, dan pelancong-pelancong seperti kita ini yang sangat mengganggu pastinya..😀

Sekolah Laskar Pelangi

Pulang dari sekolah, setelah perjalanan 15 menit, sampailah kita di dam (pice kata orang Belitung) sungai Lenggang yang berlokasi di Kec. Gantung. Konon pice itu dibikin sama Belanda waktu menduduki Belitung dulu. Di pice, banyak orang sipit-sipit, pas ditanyain ke Bang Erick, katanya di Belitung didominasi suku Melayu, dengan agama Islam Melayu, Buddha, dan Konghucu.

dam Sungaai Lenggang

Destinasi selanjutnya, sebelum kembali ke hotel adalah makan malam. Makan malam kita di tengah kota (sepertinya), karena buta arah, nggak tau itu lokasinya dimana. Makanannya kepiting, telur kepiting, udang bakar, tumis kangkung (lagi) dan buah semangka + nanas (lagi).

kepiting air payau

As we know, tak ada jalan-jalan tanpa oleh-oleh, tapi oleh-oleh kita dibeli pada hari pertama, bahkan kami belum liat hotel tempat menginap pun. Rombongan ke toko oleh-oleh makanan, makanannya dari hasil laut, ada durio cumi (semacam kerupuk darr cumi-cumi), ada stick rumput laut (sejenis cheese stick berbahan dasar rumput laut), ada ikan kering, ada abon ikan, ada balacan yang baunya sreeeeeng…. Pokoknya makanan dari hasil laut.

Selanjutnya, toko souvenir. Disitu tempat beli kaos & merchandise khas Belitung. Dari harga, masih reasonable untuk ukuran oleh-oleh, kaos dewasa dari harga Rp 28.000,- – Rp 40.000,-.

Setelah bagasi full kardus oleh-oleh, saatnya pulang ke hotel yang katanya paling bagus se-Belitung Raya, Lor In Beach Resort di Tanjung Tinggi – Kab. Belitung Barat. Tapi ingat, bagus itu relatif, dan uang tidak dapat membeli semua hal.

…to be continued…

Entry filed under: Cerita. Tags: .

Once upon a time in Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Overview

Imagining

Pemilik blog ini adalah Ari, mahasiswi yang sedang merintis jalan untuk menyelesaikan studi Ilmu Ekonomi di Semarang. Banyak cerita tentang kehidupan mahasiswi perantauan ini, dan selengkapnya ada di blog Hijau | Biru ini.

Statistics

  • 44,489 kicks

Arsip


%d blogger menyukai ini: