Belitung Island day #1

Baru saja berakhir
hujan di sore ini
menyisakan keajaiban
kilauan indahnya pelangi

Tak pernah terlewatkan
dan tetap mengagumiNya
kesempatan seperti ini
tak akan bisa dibeli

Bersamamu kuhabiskan waktu
senang bisa mengenal dirimu
rasanya semua begitu sempurna
sayang untuk mengakhirinya

Pernah denger lagu itu dong?
Yak, OST film Laskar Pelangi yang mengambil setting sebuah pulau penghasil timah di bekas Provinsi Sumatera Selatan yang sekarang bergabung di Provinsi Bangka – Belitung.

Hmm.. Well, Pulau Belitung. Tadinya nggak begitu minat ke Belitung, karena biasanya “bekas” film itu jadi kumuh tempatnya, komersil gitu, dikunjungi, dikotori, dan lupa dirawat. Sampai sesaat sebelum pembagian tiket oleh Bu Grace (Tour Organizer), aku nggak tau ntar mendarat di kota apa, pakai maskapai apa, nama bandaranya apa pula. Namanya juga nggak begitu tertarik, jadi nggak berminat nyaritau juga, dan lagi semua udah diatur Bu Grace, nggak bakal nyasar, nggak meng-arrange sendiri destinasinya. Apa dikata, anak baru nggak bisa banyak cingcong, ngikut ajalah, dan berangkatlah serombongan (ber-14 + Bu Grace) tanggal 4-6 Februari 2011. By the way, Kota tujuan kita adalah Tanjung Pandan.

Jumat (4/2/2011) rombongan berangkat pagi-pagi karena flight jam 09.00 dari Terminal IB Bandara Sekarno-Hatta dengan Sriwijaya Air. Estimasi perjalanan 50 menit. Karena pas Imlek, alhasil banyak ornamen merah-kuning dimana-mana, termasuk yang sipit-sipit juga. Dan hoki Imlek juga nempel di rombongan kita, flight itu juga ngadain undian tiket PP Cengkareng – Tanjung Pandan, dan yg dapet Rama, salah satu anggota rombongan.

Welcome to Belitung Island

Sampai Bandara H.AS. Hanandjoeddin – Tanjung Pandan, agak-agak gimana gitu, bandaranya cukup kecil, dan hectic-nya lebih mirip stasiun kereta api. Cuaca gerimis saat itu, dan kita langsung dijemput 2 minibus yang dipandu Pak Hendro dan Bang Erick dari Belitung Island (tour agent lokal). Cuaca gerimis. Keluar dari lokasi bandara, kita melewati jalanan sepi, lumayan mulus jalanannya, mungkin karena nggak banyak ritasi kendaraan dan penduduknya juga jarang. Di kanan-kiri masih banyak kebon diselingi rumah-rumah yang nggak menggerombol.

Setelah perjalanan sekitar 30 menit, sampailah kita di R.M. Mabay – Tanjung Tinggi – Kab. Belitung Barat, lokasi makan siang & sholat Jumat. RM menghadap ke pantai, dengan makanan ikan semacam ikan kambing-kambing di Babe Lili, cumi goreng tepung, tumis kangkung balacan (terasi khas Melayu), tumis genjer, sayur ikan pake nanas, buahnya nanas & semangka. Tolong diingat, ini buah yang akan ditemui selama tour, meski berbeda rumah makan.

Resto Mabai

Setelah dari Mabai, saatnya perjalanan ke Manggar, padahal katanya hotel tempat menginap deket banget sama Mabai, tapi rombongan mau langsung ke Manggar sebelum ke hotel, biar menghemat waktu. Perjalanan dari Mabai – Manggar sekitar 2 jam (atau lebih, karena berasa jauuuuuuh). Secara geografis, Manggar ada di Kab. Belitung Timur, sementara Tanjung Pandan ada di Kab. Belitung Barat. Meski Belitung cuma satu pulau gitu, tetep aja, jauh.. Secara jarang ada rumah, dan masih hutan-kebon gitu, bahkan beberapa kali lihat monyet & anjing berkeliaran.

Destinasi pertama di Manggar adalah kedai kopi, karena kedai kopi biasanya tutup jam 15.00. Pas kita dateng pas udah mau tutup itu kedai, tapi dibuka lagi, demi kita yang ber-14 + Bu Grace + Pak Hendro + Bang Erick. Kita dateng ke Kedai Kopi Atet. Kondisinya beda jauh sama gambaran kedai kopi di film Laskar Pelangi, yang ini udah versi bagusnya. Konon katanya, kedai kopi itu buka dari jam 04.00 untuk melayani orang-orang yang pergi ke pasar. Harga kopinya relatif murah. Segelas kopi dihargai Rp 3.000,-, sedangkan kopi susu dihargai Rp 6.000,-. Kedai Atet juga menjual bubuk kopi, per 250 gr dijual Rp 25.000,-. Menurut penjelasan Bang Erick, kopi di Manggar itu biji kopi dari Lampung tapi diolah di Manggar. Tapi, orang Lampung-pun bilang kopi Manggar enak, beda sama kopi Lampung. Dasar aneh… “(-_-)

Kopi Manggar

Tujuan selanjutnya adalah Pantai Serdang, dengan perjalanan sekitar 20 menit dari kedai Koh Atet. Pantai serdang sepi sore itu, agak mendung, dan cuma ada pohon-pohon cemara angin, berderet perahu katir (orang Belitung menyebutnya) warna-warni, sekelompok nelayan yang sedang bersiap, beberapa ekor anjing liar, plus segerombol kotoran kerbau. Di Pantai Serdang cuma foto-foto sebentar, pemanasan sebelum tour yang sesungguhnya.

Dua puluh menit selanjutnya rombongan menyusuri jalanan Kec. Manggar dengan tujuan akhir sekolah Laskar Pelangi yang berlokasi diantara danau ex tambang timah. Baru turun dari minibus, rombongan disuguhi atraksi anak-anak yang main salto di kubangan pasir di halaman sekolah. Disana juga sudah ada Ferdi, cast Lintang dalam film Laskar Pelangi. Mau cuma anak desa di Belitung juga Ferdi tetep pemain film, artis dia, jadi berfotolah kita serombongan sama dia. Usut punya usut, ternyata sekolah itu sekolah replika, dimana sekolah aslinya ada di lingkungan sekolah yang masih aktif, dan pelancong-pelancong seperti kita ini yang sangat mengganggu pastinya..ūüėÄ

Sekolah Laskar Pelangi

Pulang dari sekolah, setelah perjalanan 15 menit, sampailah kita di dam (pice kata orang Belitung) sungai Lenggang yang berlokasi di Kec. Gantung. Konon pice itu dibikin sama Belanda waktu menduduki Belitung dulu. Di pice, banyak orang sipit-sipit, pas ditanyain ke Bang Erick, katanya di Belitung didominasi suku Melayu, dengan agama Islam Melayu, Buddha, dan Konghucu.

dam Sungaai Lenggang

Destinasi selanjutnya, sebelum kembali ke hotel adalah makan malam. Makan malam kita di tengah kota (sepertinya), karena buta arah, nggak tau itu lokasinya dimana. Makanannya kepiting, telur kepiting, udang bakar, tumis kangkung (lagi) dan buah semangka + nanas (lagi).

kepiting air payau

As we know, tak ada jalan-jalan tanpa oleh-oleh, tapi oleh-oleh kita dibeli pada hari pertama, bahkan kami belum liat hotel tempat menginap pun. Rombongan ke toko oleh-oleh makanan, makanannya dari hasil laut, ada durio cumi (semacam kerupuk darr cumi-cumi), ada stick rumput laut (sejenis cheese stick berbahan dasar rumput laut), ada ikan kering, ada abon ikan, ada balacan yang baunya sreeeeeng…. Pokoknya makanan dari hasil laut.

Selanjutnya, toko souvenir. Disitu tempat beli kaos & merchandise khas Belitung. Dari harga, masih reasonable untuk ukuran oleh-oleh, kaos dewasa dari harga Rp 28.000,- – Rp 40.000,-.

Setelah bagasi full kardus oleh-oleh, saatnya pulang ke hotel yang katanya paling bagus se-Belitung Raya, Lor In Beach Resort di Tanjung Tinggi – Kab. Belitung Barat. Tapi ingat, bagus itu relatif, dan uang tidak dapat membeli semua hal.

…to be continued…

April 20, 2011 at 8:12 am Tinggalkan komentar

Once upon a time in Jakarta

My foot does not seperate form the ground,
I’m simply afraid.
I’m afraid to fly to the sky.
Because I’m used to the ground, sky is unfamiliar place.
Don’t I have the wings?
Don’t I have the dreamer before?
– The Dream of A Seagull –

Dari dulu, aku tak pernah punya mimpi, maka itu tak pernah ada yang benar-benar kuwujudkan. Mungkin aku makhluk sejenis seagull.. ^_* ¬†Tentang sekolah, aku tak pernah punya mimpi untuk memasuki sebuah sekolah tertentu, hanya mengikuti kemana tempat yang lebih layak, dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu pastinya. Tentang pekerjaan, begitu pula. Bukan pada mimpi aku berharap, tapi pada kenyataan aku berusaha. Itu sebabnya sekarang aku harus berada di “tempat jajahan baru”, that is Jakarta (dan komplikasinya)

Mungkin menjadi keputusan yang sulit bagi sebagian orang untuk berjibaku mengais rupiah di Jakarta, tapi itu menjadi hal yang sangat menantang buatku ketika harus menghadapi dan menikmatinya. Orang-orang disini hebat, orang-orang keren dengan pengetahuannya, orang-orang yang tangguh dengan logikanya. Sampai saat ini, aku masih belum punya mimpi, karena hanya pada kenyataan aku berusaha..

Then, accelerate your footstep, Ari!

September 27, 2010 at 1:24 pm 2 komentar

Cepat.

Ya, aku yang telah menelantarkan blog ini selama hampir 10 bulan…

Skripsi yang berhasil membuatku terlena dari blogging sudah dibabat habis pertengahan tahun kemarin. Bapak pembimbing (yang mendorong untuk menyelesaikan skripsiku dengan cepat) telah memulai kuliahnya di Aussie, dan aku, melanjutkan hidup pastinya.

Sejak mulai mengerjakan skripsi, semua terasa begitu cepat. Proposal penelitian, data, buku, birokrasi, teramat sangat mendesa.Tak banyak waktu untuk menyembuhkan diri, dosen pembimbingku segera menjalani masa kuliahnya pertengahan tahun kemarin, dan aku belum mau ganti pembimbing, tidak efektif dan efisien. Hasilnya desentri dan thypus plus infeksi saluran kencing bertubi-tubi.

Tiba saat ujian skripsi yang terasa tiba-tiba, sampai menggila, apalagi salah satu dari penguji skripsiku itu profesor dan guru besar di FE. Ketegangan, ketakutan, kekhawatiran campur baur jadi satu. Namun ujian skripsi dapat kuselesaikan, dengan keadaan mendesak skripsiku disahkan pembimbing, yang pada saat itu sedang disibukkan dengan urusan rencana studinya di Aussie dan 2 penguji, yang ketika kutemui mau pergi ke luar kota. Fabulous! Periode Juli 2009, hanya dan baru 2 orang di angkatanku yang bisa diwisuda. Satu temanku yang bisa dibilang terpandai di kelas, dan satu lagi yang bisa dibilang terbodoh di kelas, aku. Lagi, semua terasa cepat.

Dunia kerja menanti, siap tidak siap aku harus segera menghadapinya. Mengganti kaos polo andalan saat kuliah dengan blus yang lebih formal, sedikit menggeser kekakuan teori kuliah dengan sesuatu yang lebih realistis, memelototi web penyedia lowongan kerja, berbondong-bondong mendatangi job fair, mengikuti ritual tes, berfikir dan memutuskan sesuatu dalam waktu begitu singkat, semua begitu cepat.

Akhir dari penantian pun tiba, akhirnya aku jadi salah satu peserta yang lolos seleksi masuk CPNS Provinsi DKI Jakarta 2009. Aku percaya ini memang sudah digariskan, tak jauh dari cita-cita dulu, selepas kuliah aku akan bekerja di Jakarta (entah apa yang kupikir saat membuat cita-cita itu). Semua masih terasa begitu cepat, sampai Februari nanti aku mulai kerja, berkutat dengan panas-macet-banjir-nya Jakarta. Sampai jumpa di Jakarta.

Januari 6, 2010 at 11:04 am 6 komentar

Nobody is perfect

gugel1

Ceritanya aku lagi mencari solusi translate, buat jurnal-jurnal ilmiah yang print-outnya udah teralalu lusuh karena udah puluhan kali dibolak-balik. Seperti layaknya mahasiswa lainnya, Transtool solusinya. Berhubung hasilnya sangat kurang memuaskan, kupakailah Google Translate.

Sebenernya, aku juga nggak 1000% percaya dengan hasil alih bahasanya, tapi lumayanlah, sedikit terbantu, buat menghemat waktu mbuka kamus. Kali ini sepertinya kepuasannya berkurang lagi, aku coba translate jurnal¬† in English to Bahasa Indonesia, tapi kok di judulnya itu kan Pakistan, di-translate ke Bahasa Indonesia kok judulnya malih jadi Indonesia. Google lin-plan banget deh… *emangnya orang*. Aku nggak tahu-menahu sih soal sistem alih bahasanya atau mungkin itu bugs, dan sekarang aku juga belum mau mencari tahu. Tapi kalo ada yang mau ngasihtau ya dengan senang hati. Terimakasih lagi kalo mau njelasin detailnya..

Maret 10, 2009 at 12:09 pm 6 komentar

Mulai mengakhiri

Setelah mendapat desakan dari kanan, kiri, depan, belakang, atas, bawah, akhirnya aku berniat tulus ikhlas sukarela menyelesaikan tugas akhir kuliah. Walau sebetulnya nilai-nilai masih belum memuaskan banget, tapi mau atau tidak aku harus mengejar kelulusan tahun ini juga, bahkan pertengahan tahun rencananya. Sebab, dosen pembimbingku September kelak dipastikan pindah melanjutkan studi di luar negeri. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya aku memutuskan untuk menyelesaikan semua urusan kuliahku sebelum beliaunya pergi, daripada ganti dosen, ntar malah ganti alur pemikiran lagi.

Untuk kali ini, aku pengen serius, dan sepertinya emang harus serius, makanya sekarang aku lebih fokus dan banyak mengurangi aktivitas lain. Aktivitasku beralih ke perpustakaan-perpustakaan, menyambangi rak buku makroekonomi, kalaupun online karena keputusasaanku nyari referensi yang nggak ada di buku. So, maap maap kalo akhirnya banyak yang bilang aku jarang posting.

Bagiku, skripsi bukan hal yang buruk kok, sebab emang harus dicintai, setidaknya sampai saat mengenakan toga. Mungkin terdengar agak lebay, tapi emang harus lebay. Sebelum ujian skripsi kelak, aku harus menjalani ujian dulu dengan dosen wali, padahal dosen wali lainnya nggak gitu-gitu banget deh, biasanya mahasiswa ya ujian cuma sama dosen penguji. Itu sebabnya, banyak persiapan biar bisa selesai sesuai rencana dan berkesan baik di akhir perjuangan 4 taun++ ini.

Doain yha teman-teman, semangati aku juga….

Februari 24, 2009 at 3:50 pm 4 komentar

Reinkarnasi Wisata Bahari

Siapa yang nggak tau Tegal?

Pasti ingatannya deket banget sama yang namanya Warteg. Lalu, ada yang tau nggak kalo Tegal itu juga daerah pesisir pantai utara? Buat yang sering mudik mungkin tau banget Tegal itu adalah bagian dari jalur pantai utara Jawa Tengah, dimana pengguna jalur pantura bisa menatap langsung ke laut saat melintasi jalur tersebut.

Di Tegal juga ada Pangkalan TNI-AL, yang sekarang gedungnya bercat putih biru, letaknya berseberangan dengan Kantor Pos Tegal. Hingga saat ini, tidak sedikit masyarakat yang menggantungkan hidup dari sumber daya laut.

Kebaharian Tegal sebetulnya sudah dari dulu terkenal, salah seorang kenalan dari Makassar pernah mengatakan bahwa dulu dia mendarat dari perjalanan lautnya di pelabuhan Tegal, bukan Cirebon, bukan Jakarta. Setelah akhirnya terjadi pendangkalan di pelabuhan lama, pelabuhan digeser ke sisi barat. Sewaktu pelabuhan masih di utara Balai Kota lama, di sisi timur pelabuhan dikembangkan menjadi objek wisata Pantai Alam Indah (PAI). Ketika aku kecil, rasanya masih bagus, masih ada kebun binatang mini, masih bisa dikatakan layak jadi objek wisata. Pada perkembangannya, PAI mengalami kemerosotan, tak banyak yang bisa ditawarkan oleh objek wisata yang dikelola Pemkot Tegal ini. Hingga kawasan PAI hanya dikenal sebagai ajang pacaran dan lahan konser musik.

Akhir 2008 ini, PAI yang “mati suri” bangkit kembali, dalam bentuk yang sedikit banyak berbeda. Wisata PAI dikemas dengan Wisata Monumen Bahari dan wahana wisata air semacam Water Boom yang baru saja diresmikan tanggal 20 Desember 2008 kemarin.

Water Boom

PAI berreinkarnasi, dan menurutku wisata ini cukup menjawab kehausan masyarakat akan wisata edukasi, karena memang jarang ada di wilayah Tegal. Monumen Bahari memberikan pengetahuan melalui koleksi pesawat tempur, tank, senjata perang, repelika kapal, dan lain sebagainya.

Pesawat1

Minggu, 21 Desember 2008, sehari setelah peresmian, banyak masyarakat yang datang dari berbagai penjuru daerah di Tegal hendak menikmati udara pantai atau hanya berfoto di depan kendaraan-kendaraan perang yang didatangkan dari berbagai wilayah di Indonesia.

PAIpai

Namun sayangnya, kenyamanan pengunjung cukup terganggu dengan adanya genangan air di beberapa ruas jalan, dan juga tampaknya belum ada area parkir yang memadai. Sebut saja ini PR untuk Pemkot Tegal, selain membuat Peraturan Daerah berkenaan dengan wisata tersebut yang konon kabarnya belum juga “matang”. Nakhoda kapal Kota Tegal baru, semoga Tegal terus melaju.

Desember 23, 2008 at 6:37 pm 18 komentar

Aksi Demo

Minggu ini minggu ujian tengah semester. Semester ini aku menyelesaikan utang-utang kuliah, jadi kuliah yang kuambil banyak, mau nggak mau, ujiannya juga banyak. Hari ini udah separuh jalan, tinggal seminggu lagi, trus nunggu ujian akhir deh Januari ntar.

Hari ini aku ada jadwal ujian Otonomi Daerah, gara-gara semalem kecapekan ngapalin isi Undang-Undang, aku ketiduran nggak beraturan. Pagi-pagi handphone-ku nyala-nyala, ringtonenya sih dari orang rumah, bener deh, Bapak yang telpon.

B : “Mbak, lagi apa?”
A : “Baru bangun”
B : “Kamu jangan ikut-ikutan temenmu!!!!!”
A : *bingung-se-bingung-bingungnya* “Lah, emang ikut kemana?”
B : “Itu di TV anak FE demo, kowe ra sah melu-melu, ndak ora lulus-lulus” *so, demo berkorelasi negatif terhadap kelulusan*
A : *tanpa ekspresi* “Yah, ngapain juga ikutan ‘gitu-gitu’. Udah deh, Bapak ki aneh-aneh wae. Ari lagi arep ujian ki, gen cepet lulus,,,,,”

Sebenernya masih ngantuk, tapi jadi bingung musti gimana, ketawa, apanya yang lucu, marah, apa yang bikin marah, akhirnya nerusin menelan pasal di Undang-Undang lagi.

Sampe di kampus, nanya sana-sini, ternyata emang kemarin ada demo ‘menyambut’ presiden. Katanya sih presiden menghadiri acara Dies Natalis UNDIP & Pembukaan acara di PRPP apa nggak tau, pas liat iklannya di bandara sih acara expo teknologi gitu.

Dari video demo kemarin itu, aku lihat ada adik kelasku, ada juga anak FE yang konon beritanya ditangkap. Biasanya sih temen-temen pada nggosip dulu di kelas kalo mau ada aksi, berhubung ini masih suasana UTS, jadi jarang ketemu sama temen sekelas.

Kenapa sih musti demo?? Jaman aku ndengerin pelajaran Sosiologi SMA, dijelasin kalo demo itu gunanya untuk kontrol sosial. Asam yang kalo diberi basa jadi netral, asam itu pemerintah dan basa itu demonstran, mungkin seperti itu ilustrasinya *padahal ngarang*. Aku setuju sama yang namanya penyaluran aspirasi dan bertukar pikiran, tinggal bagaimana cara penyampaiannya yang lebih enak dan tidak saling menyakiti. Kalo nggak setuju, kan bisa ngomong baik-baik, nggak usah ngotot, malah capek sendiri, nggak ada yang ndengerin, malah ditendangin, diseret-seret.

detiknews

Demo 30 Oktober 2008, Sumber:detiknews.com

Temenku ada yang jadi tukang demo, tapi dia nggak selalu ikutan tiap kali ada demo, mungkin dia aktor di belakang layar *emang ada gitu??*. Aku sering diskusi sama dia, dan dia seperti orang-biasa-pada-umumnya kalo tanpa megachot megaphone. Mungkin dia baru akan menjadi gahar dan sangar kalo ketemu sama megaphone. Sepertinya megaphone memang sakti,,

Oktober 31, 2008 at 3:01 pm 9 komentar

Pos-pos Lebih Lama


Overview

Imagining

Pemilik blog ini adalah Ari, mahasiswi yang sedang merintis jalan untuk menyelesaikan studi Ilmu Ekonomi di Semarang. Banyak cerita tentang kehidupan mahasiswi perantauan ini, dan selengkapnya ada di blog Hijau | Biru ini.

Statistics

  • 43,392 kicks

Arsip